Rabu, 03 Juni 2020

BERKAT DIBALIK PENDERITAAN (KELUARAN 1:1-22)

Raja yang Jahat Memerintah Mesir — PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal

Bahan Pembacaan Alkitab Rumah Tangga (PART)
GKS Jemaat Puu Naga
Rabu - Jumat, 03-05 Juni 2020
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol



Penjelasan Perikop Alkitab

          Secara garis besar kitab Keluaran menceritakan tentang kehidupan umat Israel di tanah Mesir dan peristiwa keluarnya umat Israel dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Pada bagian awal kitab ini, yaitu Pasal 1:1-22 dimulai dengan memuat kisah penderitaan yang dialami oleh umat Israel di tanah Mesir atas perintah Firaun (Firaun bukanlah nama orang atau nama pribadi melainkan sebuah gelar yang diberikan kepada raja Mesir). Ayat 1-6 menceritakan tentang anak-anak Israel (para anak Israel yaitu keluarga atau keturunan Yakub; bc. Kej 32:28 dimana Allah memberikan nama baru kepada Yakub, yaitu “Israel) yang tinggal di Mesir oleh karena bencana kelaparan yang terjadi sebelumnya dan beranak cucu serta tak terbilang jumlahnya sehingga mereka memenuhi negri itu, Ayat 7. Pada awal mula kehidupan para anak Israel di Mesir boleh dikatakan berjalan dengan baik. Namun sejak Yusuf mati dan orang-orang yang seangkatan dengan dia juga mati (Ay.6), muncullah seorang raja baru yang memerintah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf dan kaum keluarganya, umat Israelpun mengalami penderitaan, Ayat 8-14. Mereka diperbudak dan ditindas dengan melakukan kerja paksa membangun kota-kota perbekalan bagi Firaun (yaitu kota–kota tempat Firaun menyimpan makanan yang akan digunakan pada waktu kelaparan, bc. Kej 41:48), yakni Pitom (dalam Bahasa Mesir , nama ini berarti rumah (dewa) Atum) dan Raamases (nama ini merupakan singkatan dari kata Bahasa Mesir yang berarti “rumah Ramses yang dikasihi (dewa) Amun). Hal apa yang mendasari hal itu sehingga umat Israel di Mesir mengalami perbudakan dan penindasan? Ayat 9-10 berkata : karena umat Israel semakin bertambah banyak di Mesir dan hal itu menimbulkan ketakutan bagi Firaun. Tetapi semakin umat Israel ditindas dengan melakukan kerja paksa atau kerja rodi, umat Israel justru semakin bertambah banyak jumlahnya sehingga orang Mesir menjadi takut terhadap mereka. Perbuatan Firaun terhadap orang Israel tidak hanya sampai disitu saja. Ia lalu memerintahkan para bidan-bidan di Mesir yang menolong proses persalinan bagi para perempuan Israel untuk membunuh atau membuang setiap bayi laki-laki Israel yang lahir di sungai Nil tetapi bayi perempuan dibiarkan hidup atau selamat, Ayat 15-22. Walaupun Firaun telah mengeluarkan perintah itu, namun para bidan-bidan itu justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka membiarkan setiap anak-anak Israel yang lahir untuk tetap hidup sebab mereka lebih takut kepada Allah Israel daripada raja Mesir (Ay.17). Maka Allah memberkati bidan-bidan itu dan bangsa Israel semakin bertambah banyak jumlahnya di Mesir.           
           
          Melalui perikop ini, kita dapat melihat bahwa sekalipun umat Israel mengalami berbagai macam penderitaan, yaitu diperbudak dan ditindas oleh orang Mesir tetapi Allah tetap memelihara mereka dengan memakai para bidan-bidan di Mesir menjadi salah satu alatNya sehingga umat Israel semakin bertambah banyak jumlahnya, sebagaimana yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang Israel, bahwa Allah akan menjadikan umat Israel sebagai bangsa yang besar (Kej 12:2). Allah memelihara umat Israel dengan “caraNya” sendiri agar umat Israel tidak kehilangan iman ditengah penderitaan yang mereka alami.

           Kehidupan anak-anak Tuhan juga saat ini tidak pernah lepas dari yang namanya penderitaan (pergumulan) hidup. Penderitaan atau pergumulan apa yang saat ini sedang kita alami? Salah satu penderitaan atau pergumulan hidup yang kita alami saat ini yaitu wabah covid-19, yang tidak hanya melanda dunia, tetapi juga melanda pulau kita tercinta Sumba. Dampak dari pandemi covid-19 ini yaitu banyak orang kehilangan pekerjaan, hidup menjadi semakin berat, tidak bebas beraktivitas atau kemana-mana bahkan kita harus tetap “tinggal” di rumah demi memutus mata rantai penyebaran virus ini. Ditambah lagi saat ini ternak-ternak kita juga terserang virus flu babi atau yang dikenal dengan istilah African Swine Fever (ASV). Namun percayalah, bahwa Allah yang tidak kelihatan itu akan tetap memelihara hidup kita dengan caraNya yang tidak terduga bagi kita. Kita masih ada saat ini adalah salah satu bukti pemeliharaan Allah yang luar biasa bagi kita. Hidup memang penuh penderitaan, namun dibalik setiap penderitaan yang kita alami, Allah selalu memelihara kehidupan kita.    


Liturgi Ibadah

1.       Sapaan Majelis jemaat
2.       Nyanyian Pembukaan KJ 18 : 1-2 “Allah Hadir Bagi Kita”
3.     Votum + Salam : Kebaktian rumah tangga ini kiranya berlangsung dalam nama Allah Tritunggal, Bapa,     Putra  dan Roh Kudus.
 “Turunlah atas kita sekalian Anugrah dan Sejahtera dari Allah Bapa, dari Yesus Kristus Tuhan kita, dalam   persekutuan dengan Roh Kudus,” Amin.
4.       Nyanyian respon KJ 18 : 3-4 “Allah Hadir Bagi Kita”
5.       Doa pelayanan Firman Tuhan
6.       Pembacaan Alkitab Rumah Tangga : Kel 1:1-22

    Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
          Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus ditempuh dan dilewati. Namun dalam perjalanan kehidupan itu, seringkali kita mengalami yang namanya penderitaan atau pergumulan hidup. Penderitaan atau pergumulan apa yang saat ini kita alami dan itu membebani kehidupan kita? Di tengah penderitaan yang kita alami itu, bagaimana Allah turut hadir?   

  Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
          Ketika bangsa Israel hidup di Mesir, merekapun mengalami yang namanya penderitaan. Penderitaan yang mereka alami disebabkan karena ketakutan raja Firaun karena pada waktu itu jumlah umat Israel di Mesir lebih banyak dari jumlah orang Mesir sendiri. Akibatnya umat Israel diperbudak (disuruh kerja paksa atau kerja rodi) dengan membangun kota-kota perbekalan yaitu Pitom dan Raamases dan ditindas tanpa belas kasih sehingga umat Israel hidup dalam penderitaan. Tidak hanya itu, demi mengendalikan pertambahan jumlah penduduk Israel, raja Firaun juga memerintahkan para bidan-bidan di Mesir untuk membunuh dan membuang setiap bayi laki-laki yang lahir bagi perempuan Israel dan membiarkan anak-anak perempuan hidup dengan selamat. Tetapi semakin umat Israel ditindas atau mengalami penderitaan, jumlah mereka semakin bertambah banyak sehingga semakin ketakutanlah orang-orang Mesir terhadap mereka. Mengapa hal ini dapat terjadi? Sebab Allah turut hadir dalam penderitaan yang dialami oleh umatNya di Mesir. Kehadiran Allah dinyatakan melalui pemeliharaanNya dimana Allah justru memakai bidan-bidan di Mesir untuk tetap membiarkan bayi-bayi dari anak-anak Israel (laki-laki maupun perempuan) untuk tetap hidup. Allah memelihara umatNya di tengah penderitaan dengan caraNya yang tak terduga.  

         Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Kehidupan umat Allah memang tidak pernah lepas dari yang namanya penderitaan atau pergumulan hidup. Demikian pula dengan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Khususnya saat ini ketika kita diperhadapkan dengan situasi oleh karena covid-19 dan bahkan flu babi yang menyerang ternak-ternak kita, kita mungkin bertanya-tanya dimanakah Allah di tengah situasi dan penderitaan yang kita alami? Sebagaimana Allah hadir dalam penderitaan umat Israel di tanah Mesir, dimana Allah tetap memelihara umatNya meskipun umat sedang ada dalam penderitaan, maka kita percaya juga Allah yang sama, yang tidak pernah berubah dahulu sekarang dan selamanya akan tetap hadir dalam setiap kehidupan kita saat ini. Allah hadir dalam penderitaan kita dengan caraNya untuk terus memelihara kita sehingga kita senantiasa hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. Tuhan Memberkati kita semua, amin.

7.       Persembahan diiringi KJ 444 : “Mengucap Syukurlah”
8.       Doa syukur (persembahan) dan syafaat.
9.       Nyanyian penutup  KJ 445 : 1 & 3 “Harap Akan Tuhan”
10.  Berkat : “Allah Bapa sumber segala berkat, dalam kasih dan pemeliharaan Yesus Kristus serta tuntunan   RohNya yang kudus, kiranya memberkati kita semua dari saat ini sampai selama-lamanya, amin.



(pemimpin dan jemaat menyanyikan lagu : Amin, amin, amin)

Senin, 01 Juni 2020

PENTECOST : THE NEW NORMAL (KIS 2:1-21)

Renungan Hari Raya Pentakosta: “Utuslah Roh-Mu ya Tuhan, dan jadi ...

Bapak/Ibu/Sdr/i yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,

Ø   Ada sebuah lagu yang berjudul “Lain Dulu Lain Sekarang”
Dulu aku jauh jauh dari jalan Tuhan
Orang yang terhilang serta penuh dengan dosa
Tiba tiba ku dengar
Suara Tuhan memanggilku
Aku melangkah, menuju rumah Bapaku
Refrein :
Lain dulu lain sekarang, kini ku hidup
Di dalam Tuhan, yang penuh damai
Dan penuh sentosa, ku merasakan
lain dulu lain sekarang, kini ku hidup
DI dalam Tuhan
Berkat yang melimpah
DiberikanNya, terima kasih Tuhan
Ø    Syair lagu tersebut menunjukan kepada kita seseorang yang telah mengalami perubahan hidup dari kehidupan yang lama, yaitu kehidupan yang penuh dengan dosa menuju hidup dalam Kristus yang penuh berkat.
Ø   Hal inilah yang dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu, ketika mereka menerima Roh Kudus yang turun atas mereka sebagaimana yang dikisahkan dalam perikop bacaan kita hari ini.  

Bapak/Ibu/Sdr/i yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Ø   Dalam perikop ini dikisahkan bahwa ketika tiba hari Pentakosta (dari Bahasa Yunani : pentekoste/hemera) murid-murid berkumpul di satu tempat. Mengapa mereka berkumpul di satu tempat? Kis 1:14 berkata bahwa setelah kenaikan Yesus ke Sorga, murid-murid bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama sambil menantikan janji Tuhan digenapi. Sebelumnya, Pentakosta adalah salah satu perayaan besar orang Yahudi untuk merayakan Shavuot atau festival panen raya. Sehingga orang-orang Yahudi datang dari segala penjuru dunia dan berkumpul di Yerusalem. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka sedang duduk berkumpul dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah api yang berterbangan dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh kepada mereka untuk mengatakan apa yang dikehendaki Allah. Sedangkan bagi orang-orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem, yang datang dari segala penjuru dunia, apa yang terjadi saat itu mencengangkan mereka. Sebab mereka melihat dan mendengar murid-murid berkata-kata dalam berbagai bahasa yang mereka pakai. Ada bahasa Partia, Pontus, Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang-orang Kreta dan orang Arab, mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan besar yang dilakukan Allah. Reaksi merekapun beragam. Ada yang berkata kepada yang lain : “Apakah artinya ini?” Tetapi ada juga yang menyindir dengan berkata bahwa : “mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”
Ø    Petrus yang mendengar perkataan orang banyak itu lalu bangkit berdiri dan menjelaskan kepada orang banyak itu bahwa apa yang terjadi pada para murid bukanlah dikarenakan mabuk tetapi Roh Kudus yang telah memenuhi hati mereka sehingga mereka dapat berkata-kata dalam berbagai bahasa yang dapat dimengerti oleh orang-orang saat itu. Inilah yang menjadi pintu masuk bagi Petrus untuk menjelaskan kembali kepada orang banyak saat itu tentang apa yang telah dinubuatkan nabi Yoel. Peristiwa inilah yang kemudian membuat orang banyak menjadi percaya kepada. 
Ø   Peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid dan keberanian Petrus untuk bersaksi kepada orang banyak saat itu menjadi sarana bagi orang banyak yang ada di Yerusalem untuk menyaksikan perbuatan besar Allah. Perbuatan besar Allah disaksikan dan diperkatakan kepada seluruh bangsa melalui para murid yang berkata-kata dalam berbagai bahasa. Melalui pencurahan Roh Kudus itu kuasa Allah dialami dan dirasakan oleh semua orang.

Bapak/Ibu/Sdr/i yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Ø  Saat ini, ketika dunia dilanda pandemi covid-19, kita diperhadapkan pada suatu kondisi kehidupan yang kita sebut : “New normal” atau kenormalan baru. Covid 19 telah membawa perubahan yang besar dalam seluruh tatanan kehidupan manusia, baik itu dalam kehidupan pribadi (perubahan gaya hidup; mungkin selama ini kita kurang memperhatikan kebersihan diri maka dengan adanya wabah ini kita menjadi lebih perhatian untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dsb), berbangsa (menghindari keramaian dsb) dan juga dalam kehidupan bergereja (dimana untuk beberapa waktu lamanya kita tidak beribadah di gereja melainkan di rumah tangga kita masing-masing, dsb).  
Ø  Maka saat ini ketika kita memperingati dan merayakan hari Pentakosta, yaitu hari ke lima puluh sesudah kebangkitan Kristus, kita juga diajak untuk memasuki suatu kenormalan baru atau : “The New Normal” dimana kita semakin hidup dekat dengan Tuhan (ada perubahan atau pembaharuan hidup) dan bersaksi tentang Dia dalam seluruh perjalanan hidup kita. Bersaksi tentang Allah dapat kita lakukan tidak hanya melalui perkataan tapi juga dengan perbuatan nyata, sebagaimana tema bulan oikumene saat ini : satu tubuh, satu beban jadilah sahabat dalam susah dan senang.
Ø   Pertanyaannya, sudahkah kita mengalami dan merasakan kuasa Roh Kudus turun atas kita? Jika belum maka marilah kita membuka hati dan membiarkan Roh Kudus itu turun memenuhi hidup kita.
Roh Kudus Kau hadir di sini.
Roh Kudus kumengasihiMu.
Kau lembut, Kau manis, Kaulah Penghiburku.
Penolongku diutus Bapaku
Refrein :
Kubuka hati untuk Roh-Mu Tuhan.
Kubuka hati menyembahMu Yesus.
Jamahlah kami, penuhi kami.
Dengan kuasa Alllah Maha Tinggi.


Minggu, 24 Mei 2020

BERTEKUN DAN SEHATI DALAM DOA (KIS 1:12-14)

The Spirit and Christians – Christian Publishing House Blog

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Alkisah di Timur Tengah, ada cerita mengenai orang-orang yang menanam pohon bambu Cina. Selama empat tahun terakhir mereka selalu memberi pupuk dan air meskipun tanaman tersebut belum menampakkan tanda-tanda pertumbuhan. Kemudian memasuki tahun yang kelima, mereka kembali mencoba memberikan pupuk dan air sehingga dalam waktu lima bulan tanaman tersebut akhirnya bertumbuh sembilan puluh kaki tingginya. Pertanyaannya adalah tanaman bambu Cina tersebut dapat tumbuh setelah lima bulan ataukah sesudah lima tahun? Jawabannya adalah setelah lima tahun. Seandainya orang-orang tersebut berhenti memberi pupuk dan menyiram tanaman bambu Cina itu selama lima tahun, mungkin tanaman tersebut akan mati. Namun karena ketekunan dan kesehatian orang-orang tersebut dalam waktu yang cukup lama, maka tanaman bambu Cina tersebut akhirnya dapat tumbuh.

 Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Sesudah Yesus terangkat ke sorga, dari bukit Zaitun rasul-rasul akhirnya kembali ke Yerusalem seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus kepada mereka. Perjalanan itu mereka tempuh seperjalanan Sabat. Bagi orang Yahudi, Sabat merupakan hari istirahat total dan semua pekerjaan sama sekali terlarang. Pada hari Sabat, orang hanya diperbolehkan melakukan perjalanan sejauh 2000 cubit saja, itulah jarak yang disebut jarak sehari perjalanan Sabat. Satu cubit sama dengan 18 inci (±45m). Jadi jarak sehari seperjalanan Sabat itu kurang lebih setengah mil lebih.
Ketika rasul-rasul tiba di kota Yerusalem, mereka lalu masuk ke rumah salah seorang dari antara rasul-rasul (kemungkinan ruangan ini adalah ruangan yang dipakai untuk perjamuan terakhir (Luk 22:12) dan bisa jadi terletak di rumah Maria, ibu Markus, Kis 12:12) dan naik ke ruangan atas, tempat mereka menumpang. Mereka adalah Petrus, Yohanes, Yakobus, Andreas, Filipus, Tomas, Bartolomeus, Matius, Yakobus anak Alfeus, Simon orang Zelot dan Yudas anak Yakobus (bukan Yudas Iskariot). Yang menarik adalah saat itu yang berkumpul tidak hanya rasul-rasul saja tetapi juga ada beberapa perempuan serta Maria, Ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus (Saudara tiri Yesus yaitu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas, Mat 13:55). Padahal kita tahu bahwa sepanjang hidup dan pelayanan Yesus, saudara-saudara-Nya justru berada dipihak lawan-lawan-Nya (Markus 3:21). Namun kematian Yesus telah membuka hati dan pikiran mereka sehingga mereka akhirnya sadar dan menerima Yesus. Apa yang mereka lakukan saat itu? Firman Tuhan katakan mereka semua bertekun (tidak terkecuali seorangpun) sehati dan berdoa sambil menanti turunnya Roh Kudus, seperti yang dijanjikan Yesus sebelum Ia terangkat ke sorga. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, bertekun itu berarti berkeras hati atau sunggung-sungguh. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa rasul-rasul dan semua yang ada dalam ruangan tersebut sungguh-sungguh sehati (tidak saling berlawanan atau bersepakat) dalam doa secara bersama-sama. Tidak ada yang hanya duduk diam sedangkan yang lain sibuk berdoa dan berpuasa. Tetapi sebaliknya mereka semua sungguh-sungguh menyatukan hati dalam doa dan ini mereka lakukan bukan hanya sewaktu-waktu atau sampai Roh Kudus yang dijanjikan Yesus digenapi tetapi mereka lakukan itu terus menerus dalam kehidupan mereka selanjutnya. Dengan ketekunan dan kesehatian yang sungguh-sungguh dalam doa yang mereka panjatkan atau naikkan di hadapan Allah Bapa di sorga, maka mereka semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam menantikan janji Tuhan melalui Roh Kudus.  

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,

Apa yang dilakukan oleh para rasul dan murid-murid kiranya juga menjadi teladan dalam kehidupan kita saat ini, khususnya ketika kita sedang menghadapi pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk pulau kita tercinta Sumba. Dibutuhkan ketekunan dan kesehatian kita semua (baik itu pemerintah, masyarakat warga gereja) untuk bersama-sama memanjatkan doa setiap hari agar wabah ini segera berlalu. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam melakukan upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran covid-19 ini tanpa adanya dukungan dan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat, terkhususnya kita sebagai warga gereja. Pemerintah telah memberikan himbauan agar sementara waktu kita menghindari kerumunan dan menjaga jarak serta menggunakan masker saat berpergian dari rumah, maka itu harus kita taati betul. Jangan diabaikan atau dianggap sepele himbaun tersebut. Ini masih saja kita kumpul-kumpul di tempat yang ramai, tidak menjaga jarak satu dengan yang lain, keluar rumah tidak pakai masker dan lain sebagainya. Sebagai warga masyarakat yang baik kita harus patuh betul pada anjuran pemerintah dan mengikuti protokol yang diterapkan. Dan sebagai warga gereja, mari setiap hari (tanpa henti-hentinya) di rumah tangga kita masing-masing memanjatkan doa bagi semua pihak (pemerintah, kepolisan, para medis, LSM) agar senantiasa diberi kekuatan dan hikmat dalam melakukan tugas dan kerja mereka dan mendoakan saudara-saudari yang sudah terkena virus ini agar memperoleh kesembuhan serta mendoakan sesama kita yang saat ini susah akibat covid-19 (petani, pedagang, buruh kasar, dan sebagainya). Selamat hari minggu Tuhan Yesus memberkati kita semua, amin.  



Ibadah Minggu, 24 April 2020
GKS Jemaat Puu Naga
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.SI.-Teol

Jumat, 22 Mei 2020

TUHAN AKAN DATANG KEMBALI (KIS 1:1-11)

Pesan Injil: Arti dan Pentingnya Kenaikan Yesus ke Surga


Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Dibalik setiap perjumpaan pasti akan ada yang namanya perpisahan, itulah salah satu realita kehidupan yang terjadi di tengah dunia ini. Jika perjumpaan selalu diwarnai dengan perasaan sukacita atau bahagia, maka sebaliknya perpisahan akan diwarnai dengan perasaan sedih atau perasaan duka karena kepergian orang-orang yang kita kasihi. Ketika hal itu terjadi, maka kita berharap suatu saat nanti kita akan berjumpa kembali dengan mereka yang telah pergi atau berpisah dengan kita, entah itu karena kematian, pindah kerja, studi  dsb. Karena itu orang Barat pada umumnya tidak mengucapkan kalimat “don’t say goodbye” (artinya selamat tinggal) ketika berpisah dengan seseorang, tetapi mereka selalu menggunakan kalimat “see you again” (artinya sampai berjumpa atau bertemu kembali).   

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Perikop bacaan kita hari ini bercerita tentang “Janji pencurahan Roh Kudus kepada murid-murid” (Ay.1-5) dan peristiwa tentang “Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga,” sebagaimana yang disaksikan oleh orang banyak pada waktu itu. (Ay. 6-11). Sesudah kebangkitan dan penampakan Yesus kepada murid-murid, Ia berpesan agar mereka tetap tinggal di Yerusalem guna menanti penggenapan janji Tuhan yaitu Roh Kudus yang akan dicurahkan atas mereka sehingga mereka dapat bersaksi dan melanjutkan pekerjaan Kristus di tengah dunia dalam memberitakan kabar sukacita kepada manusia. Namun sebelum janji itu digenapi, murid-murid meminta kepada Yesus agar Ia memulihkan keadaan Israel pada masa itu (Ay.6). Karena umat Tuhan pada saat itu sedang hidup dalam kesusahan dan penderitaan akibat penjajahan Romawi. Akan tetapi Yesus dengan tegas mengatakan kepada mereka bahwa pemulihan itu akan terjadi menurut ketetapan atau kehendak Allah Bapa di sorga (waktu Allah) dan karena itu mereka tidak perlu tahu kapan waktunya. Yang harus mereka lakukan adalah tetap menanti janji Tuhan itu dengan tinggal di Yerusalem (Ay. 7) sampai janji itu digenapi sehingga mereka dapat menyampaikan kabar sukacita kepada orang lain (Ay.8). Sesudah Yesus mengatakan hal itu kepada murid-murid, maka terangkatlah Ia ke sorga (Ay.9). Peristiwa kenaikan Yesus ke sorga adalah suatu perpisahan dengan murid-murid. Namun perpisahan itu bukan lagi dalam suasana yang penuh dengan kesedihan atau dalam suasana duka melainkan terjadi dalam suasana yang penuh takjub dan sukacita karena perpisahan itu hanya bersifat sementara, sebab Tuhan Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Yah benar Tuhan akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Ia terangkat ke sorga (Ay.11). Sementara murid-murid merasa takjub dengan peristiwa itu, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih (yaitu malaikat Tuhan) menegur mereka agar mereka tidak hanya berdiiri (tidak melakukan sesuatu) menatap kepergian Yesus ke sorga (Ay.10-11), melainkan mereka harus pergi melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan kepada mereka.  

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Tidak terasa sudah beberapa bulan ini kita hanya bisa “berdiam diri” karena kemelut akibat pandemi covid-19. Kita dihimbau untuk melakukan “social distancing” (menghindari kerumunan orang banyak dengan berdiam diri di rumah/ stay at home) dan “physical distancing” (menjaga jarak) dengan orang di sekitar kita. Bahkan Presiden Jokowi meminta kita untuk bekerja dari rumah (work from home), belajar dari rumah (sekolah-sekolah diliburkan) dan ibadah di rumah (salah satu buktinya yaitu seperti yang kita lakukan saat ini dalam ibadah peringatan kenaikan Yesus ke sorga) demi memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini. Lalu kitapun bertanya-tanya kapan badai ini akan berlalu dari muka bumi? Kapan kehidupan ini kembali normal seperti sebelumnya sehingga kita dapat beraktivitas seperti sediakala? Kapan kemelut ini akan berakhir? Yang terpenting saat ini adalah bukan “kapan”nya tapi “apa” yang harus kita lakukan di tengah situasi yang penuh pergumulan tersebut? Akankah kita akan terus berdiam diri tanpa melakukan sesuatu? Atau justru banyak hal yang dapat kita lakukan saat ini? Misalnya berbagi dengan orang yang susah meskipun mungkin saat ini keadaan kita juga sedang dalam kesusahan, menguatkan sesama yang sedang lemah, menghibur yang sedih dan lain sebagainya. Dan secara khusus, sebagai anak-anak Tuhan di tengah situasi saat ini bagaimana kita merayakan dan memaknai hari kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus? Ingatlah bahwa Tuhan akan datang kembali. Hari Tuhan akan tiba dan sambil kita menanti kedatangan Tuhan kembali ke dunia, kita diajak untuk hidup dalam kesucian dan kesalehan (tekun beribadah, rajin baca Alkitab, berdoa, tetap bersyukur kepada Tuhan meskipun keadaan sedang susah dsb) seperti yang dikatakan dalam nats pembimbing kita tadi dari 2 Petrus 3:10-11. Sekalipun saat ini kita tidak beribadah di gereja, namun bukan berarti bahwa ibadah kepada Tuhan “ditiadakan” atau “diliburkan.” Sebaliknya kita dapat berjumpa dengan Tuhan bersama seluruh anggota keluarga kita melalui ibadah di rumah tangga kita masing-masing. Kita harus lebih dekat kepada Tuhan bukan justru semakin hidup jauh dari-Nya. Selamat merayakan dan memaknai kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus dengan penuh sukacita dan takjub meskipun keadaan saat ini sedang sulit dan percayalah bahwa Tuhan akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya untuk memulihkan keadaan atau kehidupan kita saat ini, termasuk memusnahkan virus corona atau covid-19 ini dari muka bumi. Selamat merayakan kenaikan Yesus Kristus ke sorga, Tuhan memberkati kita semua, amin.

Renungan Ibadah Kenaikan Yesus Kristus, Kamis, 21 Mei 2020
GKS Jemaat Puu Naga
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol

SEBAB AKU HIDUP, KAMUPUN AKAN HIDUP (YOH 14:15-21)


Mari mewartakan Kabar Baik – Warta Paroki St. Petrus


Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Berdasarkan informasi resmi yang disampaikan oleh gugus tugas percepatan penanganan covid-19 di Indonesia, bahwa sampai dengan tanggal 15 Mei 2020 Pk. 18.02 WIB di Indonesia yang positif corona ada 16.496 orang, yang sembuh 3.803 orang dan yang meninggal ada 1.076 orang (sumber: https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/). Bahkan dari data tersebut ada 2 orang pasien yang positif berasal dari Sumba Timur (sumber dari facebook : SERGAP.ID). Artinya bahwa setiap hari selalu ada penambahan jumlah orang baik yang positif, yang sembuh maupun yang meninggal. Pemerintah dan berbagai pihak terkait memang telah melakukan upaya pencegahan dan pengobatan serta berusaha menekan agar data tersebut tidak terus bertambah setiap hari. Namun kenyataannya sampai dengan saat ini virus tersebut masih ada di muka bumi dan kita tidak tahu dengan pasti kapan virus ini akan musnah atau mungkin selamanya akan tetap ada di tengah dunia ini. Takut, cemas, kuatir, panik dan berbagai macam perasaan lainnya terus berkecamuk dalam pikiran kita. Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini, khususnya sebagai anak-anak Tuhan di tengah situasi yang demikian?

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Ketika Tuhan Yesus menyadari bahwa waktunya sudah dekat (merujuk pada penderitaan dan kematian-Nya) dan Ia harus meninggalkan murid-muridNya kembali ke sorga, Yesus memberikan nasihat-nasihat kepada mereka agar mereka senantiasa memegang dan melakukan perintahNya (Ay.15), sebagai wujud tindakan kasih mereka kepada Yesus Kristus (Ay. 21). Murid-murid harus taat dan patuh pada perintah Tuhan serta melakukannya dalam kehidupan mereka sehari-hari meskipun Tuhan Yesus tidak lagi bersama-sama dengan mereka nanti. Hal ini Yesus sampaikan kepada murid-muridNya karena Yesus sendiripun telah menunjukan ketaatan atau kepatuhanNya terhadap perintah Allah Bapa di sorga sebagai wujud nyata tindakan kasihNya kepada Bapa di sorga. Yesus tahu bahwa tidak mudah bagi murid-murid untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan. Karena itu Yesus berjanji bahwa Ia akan meminta kepada Bapa di sorga seorang Penolong yaitu Roh Kudus (Ay. 16) untuk tinggal bersama murid-murid. Kata Penolong di sini diterjemahkan dari kata Yunani : parakletos yang artinya seseorang yang dipanggil datang untuk menolong pada saat kesulitan atau kesusahan. Ia yang akan menyertai murid-murid dalam menjalani kehidupan di tengah dunia serta memampukan (menolong) murid-murid melakukan perintah Tuhan. Roh Kudus akan diam (tinggal) dihati murid-murid sehingga murid-murid dapat menyampaikan kebenaran firman Tuhan di tengah dunia bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruslamat (Roh Kudus disebut juga Roh Kebenaran, Ay, 17).  

Mendengar perkataan Yesus tersebut, murid-murid tentu menyadari atau mungkin memiliki firasat bahwa Yesus akan segera pergi meninggalkan mereka dan karena itu mereka menjadi gelisah hati (Yoh 14:1). Akan tetapi Yesus menguatkan dan meneguhkan mereka bahwa Yesus akan datang kembali. Ia tidak akan membiarkan murid-murid menjadi yatim piatu (merasa sendirian) menjalani kehidupan di tengah dunia ini (Ay.18). Yah tidak lama lagi Yesus memang akan pergi (melalui kematian-Nya) dan dunia tidak akan melihat Dia lagi, namun murid-murid akan melihat Ia kembali (menunjuk pada kebangkitan Yesus). Murid-murid akan melihat Yesus kembali (dengan mata iman) karena Dia akan Hidup dan murid-muridpun akan hidup (artinya hidup secara rohaniah : berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Tuhan), Ay.19. Karena itu Yesus beberapa kali menampakan diri kepada murid-muridNya sebelum Ia terangkat ke sorga agar murid-murid tetap percaya dan tetap teguh dalam iman kepada Kristus Yesus. Kebangkitan Yesus memberi murid-murid keberanian untuk terus melanjutkan hidup dan bersaksi tentang kebenaran Firman Tuhan, kebangkitan Yesus memberi kepastian hidup sehingga murid-murid tidak perlu cemas dan gelisah dalam menghadapi situasi dan kondisi yang serba tidak menentu, kebangkitan Yesus memberi jaminan bagi murid-murid bahwa Ia akan selalu menyertai mereka melalui Roh Kudus sehingga murid-murid tidak perlu kuatir lagi dengan berbagai persoalan dan pergumulan hidup. Yang perlu dilakukan oleh murid-murid adalah terus berpegang pada janji Tuhan dan melakukan perintahNya sebagai wujud kasih kepada Kristus. Dengan demikian maka Kristus diam di dalam kita (Ay.20).

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Di tengah situasi dan kondisi yang kita alami saat ini, khususnya karena pandemi covid-19, kita diperhadapkan dengan berbagai macam persoalan dan pergumulan hidup yang tentunya berdampak baik itu dalam kehidupan keluarga kita (terjadi gesekan atau konflik antara sesama anggota keluarga), pekerjaan (tidak bebas beraktivitas lagi atau bahkan kehilangan pekerjaan), ekonomi (beban hidup yang terus meningkat), sosial (tidak dapat berjumpa dengan teman atau keluarga), bahkan dalam kehidupan bergereja (kita harus ibadah di rumah tangga masing-masing bukan di gereja). Namun ingatlah bahwa meskipun hidup kita saat ini penuh kesulitan dan kesusahan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu menyertai dan memampukan kita dalam menghadapi dan menjalani pergumulan itu dengan pertolongan RohNya yang Kudus. “Sebab Aku Hidup dan Kamupun Akan Hidup” Tetap taat dan lakukan perintah Tuhan serta patuh pada himbauan pemerintah. Kiranya kuasa kebangkitan Kristus terus menguatkan, memampukan, menopang dan meneguhkan kita, Tuhan memberkati kita semua amin. 


Renungan Ibadah Minggu, 17 Mei 2020
GKS Jemaat Puu Naga
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol

KEBERANIAN MENJALANI HIDUP DENGAN MENELADANI YESUS (YOH 14:1-14)


graciaministry.blogspot.com: MURID-MURID YESUS


Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Ledakan bom bunuh diri mengguncang Markas Polrestabes Medan di Jalan HM Said, Kota Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11/2019), demikian headline berita yang ditulis oleh Kompas.com pada laman https://nasional.kompas.com. Dari berita ini kita dapat melihat bahwa sekarang orang tidak takut lagi menghadapi kematian dengan berbagai macam alasan yang melatar belakangi (baik itu karena kondisi fisik yang lemah/ sakit, karena ideologi, atau sentiment keagamaan dsb). Jika kematian tidak lagi menjadi suatu momok yang menakutkan bagi manusia, maka sudah seharusnya manusia juga memiliki keberanian dalam menjalani kehidupan ini (meskipun menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan hidup). Namun kenyataannya, seringkali kita tidak memiliki cukup keberanian menjalani hidup ini dan memilih untuk lari dari kenyataan hidup (Mis dengan bunuh diri dsb). Seperti sebuah petuah yang mengatakan : “Banyak orang berani untuk mati. Tetapi hanya sedikit orang yang berani untuk hidup.”

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Perikop Firman Tuhan hari ini yang dicatat dalam Injil Yohanes 14:1-14 adalah perkataan Yesus kepada murid-murid sebelum Ia menghadapi kematian-Nya di atas kayu salib dan keberangkatan-Nya kembali ke surga. Perkataan Yesus ini selain ingin meneguhkan murid-murid agar tidak takut menghadapi kematian (siap mati untuk hidup yang kekal) juga untuk meneguhkan mereka dalam menghargai dan menjalani kehidupan itu sendiri dengan meneladani Yesus. Karena itu Yesus berkata : “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Ay.1). Memang benar bahwa Yesus akan pergi atau kembali ke surga, namun Ia akan datang kembali membawa setiap orang percaya, ke tempat dimana Ia berada. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi orang percaya di sisi Allah Bapa di surga. Sebab Yesus adalah jalan (bukan sekedar penunjuk jalan) bagi orang berdosa untuk datang kepada Allah Bapa di surga (Ay. 6). Ini adalah sabda penghiburan bagi murid-murid, supaya mereka tidak gelisah dan tetap di dalam iman kepada Kristus, sehingga mereka memiliki keberanian menjalani hidup di tengah dunia meskipun secara kasat mata Yesus tidak bersama-sama lagi dengan mereka nantinya.

Para murid menjadi bingung dan berat hati. Tomas misalnya. Ia bertanya kemana Yesus akan pergi atau Filipus yang berkata: “tunjukkanlah Bapa itu bagi kami?” (Ay. 5, 8). Bukankah terkadang kitapun bersikap sama seperti Tomas yang tidak tahu harus berbuat apa walaupun Kristus telah menunjukkan suatu teladan hidup melalui perkataan dan perbuatan-Nya, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Firman Tuhan atau bersikap seperti Filipus yang tidak mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus? Karena itu Yesus berkata bahwa mereka telah melihat Allah di dalam diri-Nya (dalam perbuatan-perbuatan-Nya). Sebab Yesus adalah satu dengan Allah Bapa di surga (Ay.9-11). Hal itulah yang membuat Yesus memerintahkan mereka untuk tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan (ergon : karya Tuhan dalam setiap pekerjaan manusia) yang Yesus lakukan meskipun nanti Yesus tidak lagi bersama-sama dengan mereka (Ay.12). Mereka diajak untuk mengikuti dan meneladani gaya hidup Yesus. Mengapa? Karena suatu saat mereka akan dipercayakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus lakukan (Ay.12). Jika Yesus hanya memberitakan injil di daerah Palestina dan sekitarnya tetapi murid-murid, yaitu kita kelak akan memberitakan injil ke berbagai tempat di segala penjuru dunia. Hal ini tentu tidak mudah untuk dilakukan. Bukankah Yesus dalam hidup dan pelayanan-Nya selalu mengalami tantangan dan hambatan? Tetapi Yesus tidak pernah takut dan gentar menjalani pekerjaan-Nya. Yesus berani menjalani kehidupan-Nya di tengah dunia dan inilah yang harus kita teladani dari Yesus sebagai murid-muridNya.   

Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih di dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Melalui renungan Firman Tuhan saat ini, diminggu Paskah ke 4 ini kita kembali dihibur, dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak hanya siap (berani) menghadapi kematian kelak; sebagai pintu menuju hidup yang kekal melainkan sekaligus berani menjalani kehidupan saat ini di tengah dunia dengan meneladani Yesus. Berani menjalani hidup di tengah dunia itu berarti kita tidak mudah putus asa meskipun kesulitan demi kesulitan datang silih berganti, tidak mudah kecewa meskipun mengalami berbagai macam penolakan, mau menolong sesama meskipun saat ini kita sedang ada dalam kesulitan, tidak takut untuk terus melangkah meskipun jalan yang akan ditempuh penuh bahaya di depan, tidak gelisah dan cemas serta kuatir akan hari esok khususnya di tengah pandemi covid-19 dan sebagainya. Belajarlah dari teladan yang telah ditinggalkan Tuhan Yesus. Yesus tidak hanya berani menghadapi kematian-Nya tetapi Ia juga berani menjalani hidup di tengah dunia; melakukan pekerjaan Allah dan menjadi berkat bagi manusia, meskipun Ia tahu bahwa hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Selamat menjalani kehidupan ini dengan suatu keberanian karena Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita semua, amin. 


Renungan Ibadah Minggu, 10 Mei 2020
GKS Jemaat Puu Naga
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol





YA TUHANKU DAN ALLAHKU (YOH 20:24-29)



Perkataan Yesus kepada Murid-murid-Nya Setelah Kebangkitan-Nya ...

Jika Tuhan itu ada dimanakah Dia? Jika Ia berkuasa atas alam semesta, mengapa situasi dan kondisi dunia saat ini semakin memburuk bahkan banyak orang meninggal akibat covid-19? Demikian segelintir pertanyaan yang disampaikan oleh salah satu warga jemaat kepada pendetanya. Mungkin pertanyaan tersebut juga sempat terpikirkan oleh kita di tengah pandemi covid-19 saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban yang memuaskan yang disertai dengan bukti nyata mengenai kehadiran dan kuasa Tuhan atas pergumulan yang kita alami saat ini. Namun ketika kita tidak mampu “melihat” kehadiran Tuhan dan merasakan “kuasa-Nya,” maka hati kita akan dipenuhi dengan keragu-raguan. Yah itulah salah satu sikap manusia, tidak mudah percaya akan sesuatu tanpa bukti yang nyata. Inilah juga yang dialami oleh Tomas, salah seorang rasul Tuhan sebagaimana yang dikisahkan dalam bacaan kita hari ini.

Tomas adalah salah seorang dari dua belas rasul atau murid Tuhan Yesus (Mat. 10:3). Dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), nama Tomas hanya dicantumkan dalam daftar para murid. Kita tidak dapat menemukan kisah tentang Tomas. Namun dalam Injil Yohanes ada tiga peristiwa dimana Tomas tampil yaitu yang pertama pada waktu Yesus akan berangkat ke Yudea untuk membangkitkan Lazarus, murid-murid memperingatkan Yesus bahwa di tempat itu pernah Ia nyaris dibunuh orang tetapi Tomas berkata kepada murid-murid yang lain, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11:16). Di sini kita melihat bahwa Tomas seorang yang mengasihi Yesus dan rela mati bersama-sama Dia. Yang kedua ketika Yesus berkata bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa-Nya untuk menyediakan tempat bagi para murid dan akan datang kembali, Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5). Disini kita melihat sikap atau karakter Tomas yang jujur tidak seperti murid-murid Tuhan Yesus yang lain, pura-pura mengerti namun sesungguhnya tidak mengerti maksud dari perkataan atau pengajaran Yesus (Bc. Lukas 9:45) dan yang ketiga yaitu ketika para murid lain berteriak kepada Tomas, “Kami telah melihat Tuhan,” Tomaspun berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”  (Yoh 20:25). Di sini kita melihat karakter Tomas yang tidak mudah percaya sebelum ada bukti nyata. Tomas menolak percaya kepada sesuatu yang sebenarnya tidak ia percayai. Hal ini terjadi pada waktu Yesus menampakan diri kepada murid-murid sesudah kebangkitan-Nya dan pada saat itu Tomas sedang tidak berada di situ. Itulah ketiga kejadian di mana dicatat bahwa Tomas bereaksi dan mengucapkan sesuatu.

Namun delapan hari sesudah itu, ketika Yesus kembali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan saat itu Tomas ada di situ, Yesus menawarkan kepada Tomas untuk mencucukan jari ke dalam lubang bekas paku, sesuai dengan syarat yang diajukan Tomas kepada murid-murid yang lain sebelumnya. Tetapi Tomas justru membuang syarat itu. Langsung ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku’ (Ay. 28). Seruan Tomas ini adalah suatu pengakuan iman. Apa arti dari pengakuan iman Tomas tersebut? Bahwa ketika ia berseru “Ya Tuhanku dan Allahku,” disitulah kita melihat bahwa Tomas mengakui Yesus Kristus sebagai sosok yang berkuasa atas alam semesta; akan hidup dan kematian seluruh ciptaan di seluruh dunia; sosok yang sanggup melakukan segala sesuatu di dunia ini dan sosok penolong dan penyelamat dalam hidupnya. Dengan seruan itu, Tomas menjadi orang pertama yang secara tegas dan jelas menyatakan pengakuan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yunani : Kurios) dan Allah (Theos). Pengakuan Tomas ini bukan hanya merupakan pengakuan pribadi mengenai identitas atau hakikat yang sempurna dari Yesus Kristus, melainkan juga merupakan pusat pemberitaan Gereja Tuhan di seluruh dunia saat ini.

Tidak diragukan lagi, kebangkitan Yesus dan perjumpaannya itu telah menimbulkan suatu pengaruh yang radikal dalam diri Tomas. Ia yang semula ragu-ragu diubahkan menjadi seorang yang percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus benar adalah Tuhan dan Allah. Ia harus mempunyai kepastian untuk menyakini apa yang ia yakini dan ketika kepastian itu telah ia temukan, ia menjadi salah seorang dari antara rasul-rasul yang merintis pekabaran Injil ke kerajaan Partia (kini wilayah Iran dan Irak) bahkan menurut tradisi Gereja di India, Tomaslah yang pertama kali membawa berita Injil ke India Selatan (wilayah Malabar dan Travancore), sehingga lahirlah gereja Mar Thoma di India yang berkembang hingga kini. 

Pengakuan Tomas itu dipakai Yesus untuk menyatakan bahwa percaya tidak perlu didahului oleh karena melihat (Ay. 29). Percaya bukan buah dari bukti melainkan sesuatu yang timbul meskipun tidak ada bukti. Karena itu Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Perjumpaan antara Tomas dengan Kristus yang telah bangkit dan hidup itu, biarlah menjadi pengalaman iman bagi kita saat ini, khususnya di tengah situasi dan kondisi dunia yang dilanda pandemi covid-19. Bahwa Dia adalah Tuhan dan Allah kita, yang berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya, yang sanggup menyingkirkan wabah covid-19 dari muka bumi ini, Sang Penolong dan Juruslamat kita. Menjawab pertanyaan di awal tadi, apakah Tuhan ada dan jika Ia ada dimanakah Ia? Maka kita dapat menjawab yah, Dia sungguh ada dalam kehidupan kita. Kita tidak dapat melihat Ia dengan mata jasmani namun dengan mata iman yang tertuju kepada Yesus Kristus yang telah bangkit itu, kita dapat merasakan kehadiraNya dalam seluruh kehidupan kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Ia berkuasa atas segala sesuatu di dunia, termasuk berkuasa untuk menyingkirkan wabah covid-19 ini dari muka bumi. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah berjumpa secara pribadi dengan Dia. Sudahkah kita mengalami perjumpaan dengan Kristus yang telah bangkit dan hidup itu? Selamat memasuki minggu ke tiga sesudah Paskah. Tuhan Yesus kiranya terus menopang, menyertai, menguatkan dan meneguhkan iman percaya kita, amin.

Renungan Ibadah Minggu, 03 Mei 2020
GKS Puu Naga - Waikabubak
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol