Minggu, 12 Juli 2020

TAK KAN PULANG DENGAN SIA-SIA (YES 55:6-13)

KUMPULAN LAGU TENTANG FIRMAN TUHAN - LIRIK LAGU KRISTENSABDA.org / PUBLIKASI / e-BinaSiswa / Edisi 2017 No. 078 -- Remaja ...


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus………………………………………………….
Kita mungkin pernah mendengar ada orang yang berkata bahwa dia tidak “mendapatkan” sesuatu dari Firman yang didengarkan hari ini melalui khotbah yang disampaikan oleh pendeta atau pelayan Firman ketika ia meninggalkan gedung gereja selepas kebaktian. Atau jangan-jangan kita sendiripun pernah mengalaminya? Benarkah kita tidak mendapatkan sesuatu dari pemberitaan Firman Tuhan yang kita dengar? Atau jangan-jangan kita sendiri yang telah menutup pintu hati atas pemberitaan Firman itu lalu kita mulai menyalahkan sang pengkhotbah?    


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…………………………………………………
Yes 55:1-13 adalah suatu Firman yang datang kepada umat Israel yang sedang berada dalam pembungan di Babel. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan kabar keselamatan bagi umatNya Israel, bahwa Ia akan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Babel pada waktu itu. Dan apa yang disampaikan Tuhan melalui nabi Yesaya akan digenapi. Firman Tuhan ini tidak akan kembali dengan sia-sia. Hal ini digambarkan seperti hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak akan kembali ke situ melainkan akan turun ke bumi dan membuat subur segala tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi. Demikian pula halnya Firman Tuhan. Apa yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali dengan sia-sia melainkan Firman itu akan memberi “kehidupan” bagi setiap orang yang mau mendengarkan dan menerimanya. Firman Tuhan akan dan pasti digenapi seturut kehendak Tuhan (Ay.10-11). Tanda bahwa Firman Tuhan ini tidak akan kembali dengan sia-sia yaitu bahwa umat Israel akan keluar dari Babel dengan perasaan yang penuh sukacita. Mereka akan kembali ke tanah asal mereka dengan penuh sorak-sorai karena Tuhan semesta alam menyelamatkan mereka (Ay.12). Segala penderitaan dan pergumulan yang dialami selama pembuangan di Babel (yang digambarkan sebagai semak duri; kehidupan yang tertekan dan terhimpit) akan diganti dengan kehidupan yang penuh kemakmuran (dalam bacaan ini dipakai kiasan pohon sanobar, sejenis pohon pinus yang daunnya hijau dan batangnya biasa digunakan sebagai bahan bangunan; artinya umat Israel akan kembali menata dan membangun kehidupan mereka sesudah pembuangan di Babel). Kemurahan Allah akan dialami oleh umat Israel dimana Allah akan membawa mereka kembali ke Yerusalem. Dalam Firman Tuhan ini dipakai kiasan “sebagai ganti pohon kecubung” (sejenis tanaman berbunga yang berbentuk terompet yang besar) akan tumbuh pohon murad (pohon murad biasa digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan dan produk kecantikan). Kemurahan Allah tidak hanya membebaskan umatNya dari segala penderitaan tetapi Ia juga akan memulihkan (membalut hati umat yang penuh kekecewaan dan kepedihan karena beban hidup) kehidupan mereka (Ay.13). Namun yang harus dilakukan oleh umat Israel saat itu adalah mencari Tuhan dan berseru kepada-Nya serta meninggalkan segala kehidupan yang penuh dengan dosa. Sebab Allah akan memberi mereka pengampunan karena Ia mengasihi umat-Nya (Ay. 6-7). Memang hal ini tidak dapat dimengerti oleh umat Israel dengan sepenuhnya, sebab mereka berkata bahwa : “Jika kami adalah umat pilihan Tuhan, mengapa Ia membiarkan kami hidup dalam pembungan dan penderitaan di Babel.” Tetapi seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah terkadang kita tidak mampu menyelami dan memahami seluruh rancangan dan tindakan Allah dalam hidup umat-Nya (Ay. 8-9). Tetapi satu hal yang pasti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya berjalan sendirian. Sekalipun umat seringkali tidak taat dan meninggalkan Tuhan, tetapi Ia tidak pernah sedikitpun meninggalkan umatNya. Terkadang Tuhan seolah-olah jauh dari kehidupan kita dan sepertinya Ia tidak perduli dengan segala penderitaan dan pergumulan hidup yang kita alami. Akan tetapi sesungguhnya Tuhan sedang memberi kita waktu untuk merenungkan kehidupan yang sudah kita jalani dan Dia sedang menanti kita untuk kembali kepada-Nya. Hal ini terbukti dalam kehidupan umat Israel pada waktu itu dimana akhirnya melalui Raja Persia, Koresh, Tuhan membawa pulang atau membawa kembali umatNya ke Yerusalem (Baca Yes 56-66).
Benarlah apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan bahwa setiap Firman yang keluar dari mulut Tuhan pasti terlaksana. Firman Tuhan itu tidak akan kembali dengan sia-sia. 


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…………………………………………………
Mungkin saat ini kehidupan kita sama seperti umat Israel pada waktu itu. Hidup kita saat ini sedang ada dalam berbagai macam pergumulan yang membuat kita kehilangan semangat dan sukacita dalam menikmati hari-hari hidup yang masih Tuhan percayakan. Entah itu karena masalah di tengah rumah tangga kita masing-masing (ketidaksetiaan dan ketidakharmonisan salah satu anggota keluarga kita), masalah di tengah kehidupan bermasyarakat (orang-orang terus menjelekkan atau menggosipkan diri kita), di lingkungan pekerjaan (rekan kerja yang berusaha menjatuhkan atau selalu mencari-cari kesalahan kita) dan bahkan dalam kehidupan bergereja (orang-orang yang menolak pelayanan Firman Tuhan). Lebih khususnya di tengah pandemi covid-19 yang membuat dunia berada diambang kekacauan dan kitapun terkena dampak dari situasi ini. Di tengah situasi yang kita hadapi saat ini, yang harus kita lakukan adalah datang kepada Tuhan, berseru kepada-Nya serta meninggalkan segala kehidupan kita yang selama ini mendukakan hati Tuhan serta berbalik kepada-Nya. Mungkin saat ini, ketika kita datang beribadah kepada Tuhan, ada pergumulan-pergumulan yang sedang kita hadapi. Bawalah kepada Tuhan dan percayalah, saat kita datang kepada Tuhan, Dia akan menyambut kita dengan penuh sukacita, saat kita berseru kepadaNya, Ia akan mendengarkan setiap jeritan dan keluh kesah kita. Ia akan memulihkan keadaan kita. Sehingga ketika kita keluar dari rumah Tuhan hari ini, kita tidak akan pulang lagi dengan perasaan yang sedih melainkan dengan hati yang penuh sukacita.  Maz 126:4-6 yang juga sebagai nats pembimbing kita hari ini berkata : “Orang yang berharap kepada Tuhan di tengah penderitaan yang ia alami, Tuhan pasti akan pulihkan.” Dan FirmanNya tidak akan kembali dengan sia-sia. Pasti akan digenapi dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. 


Bahan Khotbah GKS Jemaat Puu Naga
Minggu, 12 Juli 2020
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol

Sabtu, 11 Juli 2020

DATANGLAH KEPADA YESUS DAN BELAJARLAH DARINYA (MATIUS 11:16-19; 25-30)

Percik Firman: Datang kepada Yesus Yuk | SESAWI.NET


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…………………………………………………
Akhir-akhir ini kita tidak asing lagi dengan sebuah istilah yang terus didengung-dengungkan yaitu “New normal” atau “Kehidupan yang baru.” Yah sejak virus covid-19 menjadi pandemi di seluruh dunia sejak akhir Des 2019 hingga saat ini, kita telah memasuki suatu tatanan kehidupan yang baru, suatu kehidupan yang cukup berbeda dari sebelum wabah covid-19 ini terjadi. Kemana-mana kita harus menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, tidak bersentuhan fisik dengan orang lain dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang hal ini dapat diterima dan dijalankan dengan baik. Namun tidak sedikit pula yang menentang atau menolak menerapkan new normal ini misalnya dengan tidak menggunakan masker saat bepergian atau ketika berada di tengah keramaian, tidak mencuci tangan dengan sabun dan lain sebagainya. Bahkan mereka berkata ingin keadaan kembali seperti semula atau “back to normal.” Salah satu faktor penyebabnya adalah karena “kita” belum siap menerima dan menerapkan perubahan itu. Kita lebih nyaman dengan kehidupan yang sudah kita jalani selama ini. Sehingga ketika perubahan itu terjadi kita bereaksi menentang dan menolak dengan cara kita. Bahkan orang-orang yang membawa perubahan itu demi terciptanya suatu pemulihan kitapun menolak dan menentang mereka. Hal ini nampak dalam kehidupan dan pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus pada waktu itu. Lalu bagaimana sikap mereka ketika menghadapi orang-orang yang terus menentang dan menolak itu?     


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…………………………………………………
Yohanes Pembaptis adalah seorang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias di tengah dunia dan Yesus Kristus adalah Sang Mesias yang dinanti-nantikan itu. Tetapi kita melihat bahwa ketika Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan meminta orang-orang memberi diri di baptis, ada saja orang-orang yang berusaha untuk menentang dan menolak kehadirannya. Selain karena ajaran Yohanes Pembaptis yang tidak sesuai dengan cara pandang mereka, juga karena ia memiliki penampilan serta gaya hidup yang cukup berbeda dari kebiasaan orang-orang pada umumnya. Ia tinggal di padang gurun, berpakaian bulu binatang, makanannya belalang dan madu hutan serta tidak makan roti dan tidak minum anggur seperti kebiasaan orang-orang pada waktu itu (Luk. 7:33). Ia justru dianggap seorang yang kerasukan setan. Demikian pula halnya dengan Yesus Kristus (Anak Manusia) yang tidak lepas dari anggapan dan penilaian mereka, yaitu sebagai seorang peminum dan pelahap, yang suka bergaul dengan orang berdosa (Mat. 11:18-19). Bahkan mereka menolak dan menentang ajaran Yesus yang penuh cinta kasih kepada semua orang tanpa membeda-bedakan mereka. Sikap mereka yang menentang bahkan menolak ajaran Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan hanya karena mereka tidak ingin mengalami perubahan dan pemulihan terjadi dalam hidup mereka tetapi juga sebagai suatu sikap yang tidak menginginkan kebenaran dinyatakan. Sehingga dengan mudah mereka menemukan alasan untuk menentang dan menolak perubahan dan pemulihan yang ditawarkan Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus serta menentang dan menolak mendengarkan kebenaran yang disampaikan mereka. Lalu siapakah mereka yang selalu menentang dan menolak perubahan dan pemulihan yang ditawarkan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus itu? Mereka adalah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang Yahudi lainnya (Luk. 7:30). Mengapa mereka melakukan hal itu? Salah satu alasannya adalah karena kehadiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus telah menarik perhatian orang banyak saat itu dan hal itu membuat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kehilangan kuasa dan pengaruh terhadap orang banyak itu.

Terhadap orang-orang yang demikian, yaitu mereka yang menolak dan menentang serta tidak mau menerima panggilan Allah baik yang datang melalui Yohanes Pembaptis maupun yang datang melalui Yesus, Yesus berkata : “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini?: (Mat.11:16a). Lalu Yesuspun mengumpamakan sikap penentangan dan penolakan itu seperti “… anak yang duduk di pasar …” (Mat. 11:16b). Dengan suatu perumpamaan yang menarik, Yesus melukiskan tentang “angkatan ini” (yaitu orang Yahudi pada saat itu). Yesus sudah melihat anak-anak di pasar, yang main pernikahan dan main penguburan (bdkn dengan permainan anak-anak pada umumnya, dimana mereka suka bermain hal-hal yang dilakukan oleh para orang tua atau yang mereka lihat dilayar kaca). Tetapi seringkali ada juga anak yang menolak mengambil bagian dalam salah satu permainan tadi. Pembagian peran sudah dilakukan. Ada yang berperan sebagai pengantin, pemain seruling, sebagai penari. Dan ketika para pemain yang lain sudah siap (pengantin dan pemain seruling) eh ternyata anak-anak yang berperan sebagai penari tidak mau menari. Begitupun halnya ketika bermain drama perkabungan. Dimana ada salah seorang yang berperan sebagai orang yang meninggal, beberapa orang berperan sebagai penyanyi lagu perkabungan dan sisanya berperan sebagai peratap atau anak-anak yang bertugas untuk menangis. Tetapi ketika permainan itu atau drama itu akan dimainkan, anak yang berpura-pura meninggal sudah siap, para penyanyi perkabungan sudah bernyanyi tetapi anak-anak yang meratap tidak mau melakukan perannya itu. Mereka tidak mau meratap. Lalu ketika permainan itu dihentikan, anak-anak yang telah merancangkan permainan atau drama tersebut berkata kepada anak-anak yang tidak mau memainkan perannya, “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (Mat. 11:17). Bukankah hal inilah yang dilakukan orang Yahudi pada waktu itu dan kita saat ini? Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan karena Kerajaan Allah sudah dekat tetapi mereka tidak mau bertobat? Ketika Yesus disalib murid-murid berduka akan tetapi orang-orang Yahudi sebaliknya justru menjadi “penonton” bahkan merasa puas karena keinginan mereka tercapai? Kitapun demikian saat ini. Ketika hari Migggu ada ibadah di gereja kita tidak datang ibadah. Lalu pada saat ibadah dialihkan sementara waktu di rumah-rumah kita masing-masing karena corona kita rindu untuk ibadah kembali di gereja. Sekarang kita sudah mulai ibadah di gereja tapi tidak kelihatan juga diri kita datang gereja lalu kita pakai alasan takut corona. Tapi kita pergi pesta atau pergi ke tempat duka atau tempat-tempat lainnya yang ramai kita tidak takut. Majelis pergi melayani PART kita tolak lalu nanti kita pakai lagi alasan majelis tidak pernah kunjung kita. Atau sudah dipercayakan jadi pelayan Tuhan atau Majelis Jemaat, kita tidak mau melakukan tugas dan tanggup jawab kita dengan alasan sedang dalam pergumulan. Pertanyaannya siapa di dunia ini yang tidak punya pergumulan? Firman Tuhan bersabda dalam 2 Timotius 4:2a : “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya.” Dulu tidak ada pendeta lalu akhirnya panggil pendeta. Sekarang sudah ada pendeta kita tolak lagi. Dengan mudah kita beralasan untuk menolak dan menentang semua itu. 
                 
Namun sekalipun mengalami penolakan dan penentangan dari ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi pada waktu itu serta orang-orang Yahudi, Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus sedikitpun tidak gentar. Mereka tetap mewartakan kebenaran Allah dan Injil keselamatan yang membawa pemulihan bagi dunia sekalipun mereka harus kehilangan nyawanya. Mereka tidak menjadikan penolakan dan penentangan itu sebagai suatu alasan untuk berhenti mewartakan kabar sukacita kepada semua orang, tetapi sebaliknya dengan sikap seorang pelayan Allah yang rendah hati (tunduk pada kehendak Allah), ramah (mau bergaul dengan semua orang tanpa menganggap orang lain lebih rendah dari kita) dan lemah lembut (penuh kasih), Yesus terus mewartakan Injil (Zak. 9:9). Jika, memang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak tertarik atau bahkan menentang dan menolak untuk dilibatkan dalam melakukan perubahan, Yesus akan tetap melakukannya bersama-sama dengan orang-orang yang menginginkan dan mau menerima kebenaran Allah itu sehingga mereka mengalami perubahan dan pemulihan dalam hidup. Sehingga tidak mengherankan jika dalam Matius 11:25 Yesus berkata, “…:” “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” ”  Orang kecil yang dimaksudkan disini adalah orang yang sangat membutuhkan kehadiran Allah, dimana melalui kehadiran Allah itu dalam hidupnya, ia mengalami perubahan dan pemulihan dalam hidupnya. Karena itu Yesuspun berkata : “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu,” (Mat. 11:28). Undangan ini Yesus tujukan bukan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat serta orang Yahudi yang menolak dan menentang Yesus agar hidupnya diubahkan dan dipulihkan, melainkan undangan ini ditujukan kepada orang-orang yang sedang berusaha dan berjuang menemukan kebenaran sejati di dalam Kristus yang dapat memotivasi mereka untuk melakukan perubahan dan pemulihan di dalam kehidupan mereka.


Bapak/Ibu/ Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…………………………………………………
Selama kita masih hidup di dunia ini, maka yang namanya perubahan dan pemulihan itu tentu dan pasti akan terjadi. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang tidak berubah atau yang berjalan statis. Waktu terus berjalan, musim terus berganti dan kehidupan butuh perubahan dan pemulihan. Untuk mencapai hal itu, tidak mungkin tidak akan ada yang namanya penentangan dan penolakan untuk sebuah usaha menuju perubahan dan pemulihan. Tetapi perubahan dan pemulihan ke arah yang lebih baik tetap harus diusahakan dan diperjuangkan dengan sikap yang rendah hati, ramah dan lemah lembut seperti yang diteladankan Yesus.    

Kita semua adalah agen-agen pembawa perubahan dan pemulihan, baik di tengah kehidupan keluarga kita, di lingkungan masyarakat, di tempat kita bekerja bahkan dalam kehidupan bergereja (khususnya sebagai Majelis Jemaat). Tidak mudah bagi kita untuk merubah atau memulihkan sesuatu yang perlu diubah dan dipulihkan. Kita pasti akan diperhadapkan dengan orang-orang yang akan menentang dan menolak kita dengan berbagai alasan yang mereka kemukakan. Tapi ingatlah ketika kita diperhadapkan pada situasi dan kondisi itu, datanglah kepada Yesus dan belajarlah dari-Nya melalui kebenaran sabda-Nya serta tetaplah berkarya. Tuhan Yesus Kristus kiranya meneguhkan, menopang dan memberkati kita semua, amin.                        



Bahan Khotbah 
Minggu, 05 Juli 2020
GKS Jemaat Puu Naga
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol

TETAP BERJUANG TANPA HARUS KEHILANGAN IMAN (KEL 5:1-24)

Begini Dialog Antara Nabi Musa AS dan Fir'aun Tentang Ketuhanan


Perikop ini berkisah tentang perjumpaan antara Musa dan Harun dengan Firaun dan bagaimana sikap Firaun sesudah pertemuan itu. Pasal ini dapat dibagi dalam beberapa babak cerita yaitu :

Babak pertama, Ay.1-5: bagian ini menceritakan pertemuan Musa dan Harun dengan Firaun. Atas dasar perintah Tuhan, Allah mereka, Musa dan Harun meminta supaya Firaun menginzinkan umat Israel pergi ke padang gurun untuk mengadakan perayaan (menyembah Allah. Tempat yang dimaksudkan adalah di gunung Sinai atau Horeb, dimana Allah telah menampakkan diri kepada Musa sebelumnya). Namun respon Firaun sangat kasar bahkan ia menghina Allah Israel dan menganggap bahwa Dia sebagai yang tidak berkuasa, seperti dewa-dewa yang dikenal Firaun di Mesir. Banyak dewa dipuji di Mesir dan Firaun yakin bahwa ia mengenal semua dewa yang penting dan berkuasa di sana. Tetapi Allah Israel? Firaun sama sekali tidak mengenal bahkan percaya pada kuasaNya. Musa dan Harun mengulangi permintaan mereka tetapi lagi-lagi Firaun tidak menginjinkannya. Ia malah melihat hal itu sebagai alasan bagi Musa dan Harun agar bangsa Israel berhenti sementara waktu dari kerja paksa dan ia juga berpikir jangan-jangan jika nanti ia mengijinkan bangsa Israel pergi, mereka akan memberontak terhadapnya sebab umat Israel lebih banyak dari orang Mesir.

Babak kedua, Ay.6-9: menceritakan tentang apa yang terjadi sesudah Musa dan Harun meninggalkan Firaun. Firaun berusaha untuk memperberat tugas dan pekerjaan umat Israel sehingga mereka tidak sempat berpikir lagi untuk pergi ke padang gurun menyembah dan mempersembahkan korban bagi Allah mereka serta agar mereka tidak mempercayai perkataan dusta yang telah disampaikan Musa dan Harun.

Babak ketiga, Ay.10-14: para pengerah (pengawas) serta mandor menyampaikan perintah Firaun kepada bangsa Israel. Tugas mereka dijadikan lebih berat dengan du acara. Pertama-tama jerami tidak diberikan lagi kepada umat Israel sebagai bahan baku mereka membuat batu bata. Sebaliknya mereka disuruh untuk mencari dan mengumpulkan sendiri bahan baku tersebut. Sebab itu umat Israel harus pergi mencari dan mengumpulkan tanggul gandum (yaitu bagian yang ditinggalkan di ladang bersama dengan akarnya sesudah di panen; berbeda dengan jerami) sebagai bahan dasar membuat batu bata. Kedua, karena tunggul gandum agak susah dipakai sebagai bahan dasar membuat batu bata, karena itu umat Israel tidak dapat mencapai target sehari yang telah ditetapkan Firaun sehingga para mandor (mandor dari orang Israel) dan umat Israel disiksa. 

Babak keempat, Ay.15-19: mandor-mandor berusaha bertemu dan meminta Firaun agar ia mau mendengar dan mengerti keluhan mereka. Pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Para mandor dan Firaun sama-sama gagal mencapai solusi yang baik. Para mandor merasa tidak berdaya terhadap keputusan Firaun. Sebaliknya Firaunpun takut jika ia menuruti keinginan para mandor tersebut, maka ia akan dilihat sebagai seorang penguasa yang lemah. Karena itu dengan berbagai alasan dia menolak memenuhi permintaan yang disampaikan para mandor tersebut. 

Babak kelima, Ay. 20-21: perpecahan di antara umat Israel. Mereka melihat bahwa penderitaan yang mereka alami sekarang akibat dari perbuatan Musa dan Harun sehingga Firaun dan hamba-hambanya membenci umat Israel dan bahkan berniat untuk membunuh mereka. Karena itu umat Israel berharap Allah menghukum Musa dan Harun.

Babak keenam, Ay. 22-24: Musa berbalik kepada Tuhan. Musa ragu-ragu dengan pemanggilannya dan menuduh Tuhan sebagai yang menyebabkan kejahatan dan kekejaman yang jatuh atas umat-Nya. Jawaban Tuhan singkat namun mengena. Kegagalan yang baru terjadi yang dialami oleh Musa dan Harun dimana Firaun saat itu seolah-olah menang atas umat Israel, tetapi Tuhan menegaskan bahwa kemenangan itu tidak untuk selama-lamanya. Sebab Tuhan akan bertindak dan membuat Firaun pada akhirnya akan melepaskan umat Israel dari negri Mesir. Musapun menerima keyakinan itu bahwa jika tiba waktu yang ditentukan Tuhan Allah, Ia akan menyatakan kuasa-Nya. Allah sanggup berbuat lebih banyak daripada yang diharapkan atau yang dipercayai oleh hamba-hamba-Nya. Sebab itu Musa harus tetap berjuang tanpa kehilangan iman kepada Allah.

Melalui perikop ini, mari kita belajar untuk tetap terus berjuang menjalani kehidupan ini tanpa harus kehilangan iman kepada Allah, sebab Allah terus berjuang bersama dengan kita dan bila waktu yang Ia tentukan tiba, Ia akan menyatakan kuasa-Nya dalam hidup kita. 

Liturgi Ibadah
1.       Sapaan Majelis jemaat
2.       Nyanyian Pembukaan KJ 15 : 1 “Berhimpun Semua Menghadap Tuhan”
3.       Votum + Salam : Kebaktian rumah tangga saat ini biarlah jadi dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.
“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal, turunlah atas kita sekalian,” Amin.
4.       Nyanyian respon KJ 15 : 3 “Berhimpun Semua Menghadap Tuhan”
5.       Doa pelayanan Firman Tuhan
6.       Pembacaan Alkitab Rumah Tangga : Kel 5:1-24

 Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
         Hidup adalah suatu perjuangan yang harus kita menangkan. Ketika kita bangun di pagi hari atau bahkan ketika kita akan menutup hari dimalam hari, hidup ini penuh perjuangan. Saat kita bangun dipagi hari, kita berjuang melalui banyak hal agar kita tetap bertahan hidup hari itu dan selanjutnya. Begitupun halnya ketika kita sampai dipenghujung hari, kitapun tetap berjuang untuk menutup hari itu dengan penuh sukacita. Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa apa yang kita perjuangkan tidak selamanya dapat tercapai seperti yang kita inginkan atau harapkan. Terkadang kita akan menemui hambatan dan kegagalan yang kadangkala menghantar kita pada kekecewaan, keputusasaan dan bahkan membuat kita berhenti untuk memperjuangkan hal itu. Lebih parahnya lagi tidak sedikit diantara kita yang akhirnya kehilangan iman kepada Tuhan atau bahkan menyalahkan Tuhan atas keadaan atau peristiwa yang kita alami tersebut. Musa dan Harun pernah diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang demikian  

          Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
        Ketika Musa dan Harun pergi menemui Firaun, atas perintah Allah, dimana Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk membawa bangsa Israel pergi dari tanah Mesir, mereka menemui kegagalan. Firaun menolak permintaan Musa dan Harun tersebut bahkan ia menghina Allah Israel dan membuat umat Israel semakin ditindas melalui kerja paksa. Hal itu diperbuat Firaun, selain karena ingin menunjukan kekuasaannya terhadap umat Israel tetapi juga hal itu ia lakukan karena ia takut terhadap umat Israel yang lebih banyak dari orang Mesir itu sendiri. Umat Israelpun menyalahkan Musa dan Harun atas penderitaan yang mereka alami saat itu dan meminta agar Allah menghukum mereka. Sebab, umat Israel tidak hanya ditindas dengan sangat kejam tetapi Firaun dan juga hamba-hambanya beriktiar untuk membunuh umat Israel dengan cara mereka sendiri. Lalu apa tindakan atau respon Musa dan Harun saat itu, ketika perjuangan mereka mengalami kegagalan? Bagaimana mereka melihat campur tangan Allah dalam kehidupan dan pergumulan yang dialami umatNya saat itu? Awalnya Musa meragukan tugas dan pemanggilannya itu dan ia bahkan menuduh Allahlah yang bertanggung jawab atas penderitaan umat-Nya itu. Tetapi Allah bersabda kepada Musa bahwa Allah akan menyatakan kuasaNya dimana Allah akan membuat Firaun pada akhirnya melepaskan umat Israel pergi dari Mesir. Allah akan berjuang (menyertai) bersama Musa dan Harun untuk membawa umat Israel pergi dari tanah Mesir, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada mereka. Yang diperlukan Musa dan Harun saat itu hanyalah tetap percaya pada Firman Allah, tetaplah berjuang tanpa harus kehilangan iman (percaya) kepada Allah.        

          Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
 Lalu bagaimana dengan hidup kita saat ini? Apa yang sedang kita perjuangkan saat ini? Mungkin saat ini kita sedang berjuang demi keutuhan rumah tangga kita agar terus berjalan harmonis; mungkin kita sedang berjuang untuk masa depan yang lebih baik; mungkin saat ini kita sedang berjuang untuk memenuhi dan mencukupkan segala kebutuhan hidup keluarga kita melalui apa yang kita kerjakan dan usahakan, mungkin saat ini kita sedang berjuang bagi kehidupan dan pelayanan di gereja kita ke arah yang lebih baik lagi dsb. Apakah perjuangan kita itu sudah membuahkan hasil seperti yang kita harapkan? Ataukah sebaliknya apa yang kita perjuangkan itu menemui penolakan dan kegagalan? Bagaimana sikap kita dalam menghadapinya? Ingatlah bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita berjuang sendirian dalam menjalani kehidupan ini. Allah selalu ada dan berjuang bersama kita. Yang perlu kita lakukan adalah membiarkan Allah tetap turut campur tangan dalam seluruh rencana dan kehidupan kita sehingga bila tiba waktunya, Ia akan menyatakan kuasaNya dalam hidup kita. Tetaplah berjuang bersama Allah dan jangan pernah kehilangan iman kepadaNya. Tuhan memberkati kita semua.

7.       Persembahan diiringi KJ 302 : 1 - 3 “Kub’ri Persembahan”
8.       Doa syukur (persembahan) dan syafaat.
9.       Nyanyian penutup  KJ 329 : 1 & 3 “Tinggal Sertaku”
10.   Berkat : “Semoga Allah yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan menuju terang, terus berjuang dan menyertai hidup kita, dalam pengasihan anakNya Tuhan kita Yesus Kristus serta dalam naungan dan bimbingan Roh-Nya yang Kudus tetap menguatkan dan meneguhkan iman percaya kita dari saat ini sampai selama-lamanya.                                 (pemimpin dan jemaat menyanyikan lagu : Amin, amin, amin)


Bahan Pembacaan Alkitab Rumah Tangga
GKS Jemaat Puu Naga
Rabu - Jumat, 08-10 Juli 2020
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol





PERGI UNTUK KEMBALI (KEL 4:18-31)


Musa Kembali ke Mesir - Suara Muhammadiyah


           Setelah perbuatannya diketahui oleh Firaun, dimana Musa membunuh salah seorang Mesir karena melakukan ketidakadilan terhadap salah seorang saudaranya yaitu orang Israel di Mesir, Musapun melarikan diri ke Midian dan tinggallah ia untuk beberapa waktu lamanya di sana. Namun Firman Tuhan datang kepada Musa agar Musa kembali ke Mesir (Ay. 19). Allah menyuruh Musa kembali ke Mesir dengan tujuan agar Musa membawa dan menuntun umat Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian yang dijanjikan Allah sebelumnya kepada nenek moyang Israel, yaitu Abraham, Ishak dan Yakub. Karena itu Musapun memohon ijin kepada mertuanya Yitro untuk pergi ke Mesir, melihat saudara-saudaranya, yaitu kaum keluarga Musa sendiri yang masih tinggal di sana dan secara umum semua orang Israel di Mesir. Yitropun memberi ijin dan mendoakan agar Musa pergi dalam keadaan selamat. Lalu Musapun pergi bersama dengan Zipora istrinya dan Gersom anaknya (Ay.18-20).  

           Sebelum Musa berangkat ke Mesir, Allah telah berpesan kepadanya agar ia melakukan mujizat-mujizat yang telah ditunjukan Allah kepada Musa sebelumnya (Kel 3-4). Tujuannya agar Firaun percaya bahwa Allahlah yang telah mengutus Musa kepadanya. Namun Allah mengeraskan hati Firaun sehingga ia tidak melepaskan umat Allah itu sampai Allah menurunkan tulah yang dahsyat, dimana seluruh anak sulung orang Mesir akan mati (Ay.21-23). Mengapa Allah bertindak demikian? Mengapa Allah tidak serta merta melunakkan hati Firaun sehingga ia dengan mudah membebaskan umat Israel keluar dari tanah Mesir? Allah bertindak demikian sesungguhnya Allah ingin memperlihatkan kuasaNya kepada Firaun secara khusus dan juga orang Mesir bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa dan tidak ada allah lain di dunia ini yang lebih berkuasa daripadaNya, termasuk ilah-ilah yang ada di Mesir (hal ini nampak melalui tulah-tulah yang Allah timpakan kepada bangsa Mesir).

         Akan tetapi di tengah perjalanan itu, ketika Musa dan istri serta anaknya bermalam di suatu tempat, Allah berencana membunuhnya (Ay. 24). Mengapa Allah melakukan hal itu? Bukankah Musa telah taat dan mau mengikuti perintahNya? Menurut pendapat beberapa ahli tafsir, salah satunya Dr. Robert M. Paterson dalam bukunya yang berjudul Tafsiran Alkitab : Kitab Keluaran, mengatakan bahwa dalam perjalanan itu Musa mengalami sakit dan penulis kitab Keluaran menghubungkan sakit Musa itu disebabkan karena kuasa TUHAN. Hal ini tidak terlepas dari konsep umat Israel yang mempercayai bahwa segala sakit penyakit itu terjadi karena TUHAN marah terhadap manusia yang selalu hidup dalam dosa dan karena itu penulis kitab Keluaran ini lalu menghubungkan sakit Musa tersebut dikarenakan Tuhan marah kepada Musa sehingga LAI menterjemahkan secara bebas dengan mengatakan TUHAN berikthiar membunuh Musa. Namun Zipora, istri Musa percaya bahwa Musa sakit karena baik dia maupun anaknya mereka belum sunat (Ingat bahwa pada waktu itu sunat merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan umatNya). Karena Musa nyatalah terlalu sakit untuk disunatkan pada waktu itu, sehingga Zipora menyunatkan anaknya dengan menggunakan pisau batu (Sunat sudah ada sebelum alat besi dibuat. Dengan demikian Zipora berbuat sesuai dengan kebiasaan yang sangat kuno, yang menurutnya pisau harus dibuat dari batu untuk menyunat orang). Kulit khatan anaknya itu lalu di sentuhkan ke kaki Musa (terjemahan yang tepat adalah yaitu ditempelkan ke alat kelamin Musa; namun di sini LAI menterjemahkannya secara halus dengan mengatakan “kaki Musa”), Musa dianggap seakan-akan disunatkan. Dengan demikian maka Musa siap melayani Tuhan sebagai hamba-Nya. Lalu Musapun sembuh dan Zipora mengatakan bahwa Musa adalah “pengantin darah bagi dia” (pengantin darah adalah suatu gelar yang sangat kuno yang diberikan kepada orang yang akan menikah tetapi orang tersebut belum sunat dan karena itu dia harus disunat. Pelaksanaan sunat ini umumnya dilakukan oleh calon mertua laki-laki. Namun dalam konteks cerita ini, hal itu tidak memungkinkan sehingga Ziporalah yang melakukannya), yaitu pengantin yang sekarang telah bersunat (Ay. 24-26). Selanjutnya di Ay.27-28 diceritakan mengenai pertemuan Musa dengan Harun di gunung Allah, yaitu gunung Horeb atau gunung Sinai dan bersama-sama mereka lalu pergi ke Mesir untuk bertemu dengan para tua-tua Israel dan memberitahukan segala sesuatu yang telah difirmankan Allah kepada Musa, sehingga umat Israelpun akhirnya berlutut dan sujud menyembah Allah yang telah memperhatikan kesengsaraan mereka (Ay.29-31).        

            Melalui kisah ini kita dapat melihat bahwa meskipun Musa telah melarikan diri dari Mesir ke tanah Midian, namun Allah memanggilnya kembali agar Allah dapat melaksanakan rencanaNya membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mari kita belajar seperti Musa, sekalipun ia telah pergi namun ia kembali untuk melaksanakan rencana Allah bagi umatNya. Tuhan berkati.    


Liturgi Ibadah


1.       Sapaan Majelis jemaat
2.       Nyanyian Pembukaan KJ 64 : 1 “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”
3.       Votum + Salam : Kebaktian rumah tangga saat ini biarlah jadi dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.
“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Tritunggal, turunlah atas kita sekalian,” Amin.
4.       Nyanyian respon KJ 318 : 1 “Berbahagia Tiap Rumah Tangga”
5.       Doa pelayanan Firman Tuhan
6.       Pembacaan Alkitab Rumah Tangga : Kel 4:18-31

       Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
      Kita tentunya pernah bepergian ke suatu tempat, entah itu sekedar untuk jalan-jalan, berbelanja, karena tugas, bertemu dengan keluarga dan lain sebagainya. Apapun tujuan dan alasan kita bepergian, pastinya kita akan kembali ke tempat kita bukan? Seperti sebuah syair lagu yang berkata : “Burung saja terbang tak lupa pulang, ingat sangkar anak istri.” Hal ini juga yang dialami oleh Musa dalam perikop bacaan kita hari ini. Musa pergi dari Mesir karena suatu alasan, namun karena suatu alasan pula ia kembali ke Mesir.  

       Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
       Dikisahkan bahwa Musa telah menatap di Midian, di rumah mertuanya Yitro beberapa waktu lamanya. Lalu Allah berfirman kepada Musa agar ia kembali ke Mesir, sebab semua orang yang ingin membunuhnya (ingat kisah waktu Musa membunuh salah seorang Mesir karena menindas salah seorang saudaranya orang Israel waktu di Mesir) telah mati. Hal ini Allah sampaikan kepada Musa agar ia tidak lagi hidup dalam baying-bayang ketakutan dari orang Mesir. Tetapi alasan Allah yang sesungguhnya adalah agar Musa pergi bertemu dengan raja Mesir untuk membawa dan memimpin umat Israel keluar dari tanah Mesir, karena Allah telah melihat dan mendengar seruan dibalik penderitaan umatNya di sana. Musapun berpamitan dengan mertuanya, Yitro lalu ia beserta istri dan anaknya pergi ke Mesir. Namun di tengah perjalanan, Musa sakit dan istrinya Zipora menduga bahwa Musa sakit karena dia dan anaknya belum di sunat. Melihat Musa yang sedang sakit itu, tidaklah mungkin bagi Zipora untuk menyunatnya, lalu Ziporapun menyunat anaknya dan menempelkan khitan anaknya itu di kaki Musa. Dengan demikian Musa seolah-olah juga telah disunatkan (lihat penjelasan perikop bacaan ini). Sesudah Musa sembuh, ia beserta istri dan anaknya lalu melanjutkan perjalanan menuju Mesir. Musapun bertemu dengan Harun, kakaknya di gunung Tuhan yaitu gunung Horeb atau gunung Sinai dan menyampaikan segala apa yang difirmankan Tuhan kepadanya. Bersama-sama dengan Harun, merekapun akhirnya tiba di Mesir dan berjumpa dengan tua-tua Israel di sana serta menyampaikan segala sesuatu yang difirmankan Allah kepada mereka. Lalu percayalah bangsa itu bahwa TUHAN telah melihat dan mendengar seruan mereka lalu merekapun sujud kepada Allah.

         Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Meskipun Musa telah pergi meninggalkan Mesir sebelumnya, namun Tuhan memanggil dia kembali ke Mesir untuk membawa dan menuntun umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Allah memanggil dia kembali untuk melaksanakan rencana Allah bagi umat pilihanNya. Adakah kita juga saat ini seperti Musa? Oleh karena pergumulan hidup yang kita alami lalu kita “pergi” atau lari dari pergumulan itu? Adakah kita seperti Musa oleh karena tantangan dan hambatan yang kita alami lalu kita Tuhan bahkan meninggalkan pelayanan kita? Ingatlah bahwa meskipun kita telah “lari” tetapi Tuhan akan membawa kita “kembali” agar rencana-Nya di genapi. Tuhan memberkati dan meneguhkan kita semua, amin.  

7.       Persembahan diiringi KJ 287b : 1 “Sekarang Bersyukur”
8.       Doa syukur (persembahan) dan syafaat.
9.       Nyanyian penutup  KJ 408 : 1 “Di Jalanku ‘Ku Diiring”
10.   Berkat : “Semoga Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya, dalam iman kepada Yesus Kristus Sang Juruslamat dunia serta dalam tuntunan Roh-Nya yang Kudus, memberkati dan meneguhkan kita  semua, amin                                                    (pemimpin dan jemaat menyanyikan lagu : Amin, amin, amin)


Bahan Pembacaan Alkitab Rumah Tangga

GKS Jemaat Puu Naga
Rabu - Jumat, 01-03 Juli 2020
Oleh Pdt. Iston Umbu Kura Lena, S.Si-Teol